PROGRAM BUKU MURAH Depdiknas

Rabu, 16 Juli 2008
JAKARTA (Suara Karya): Program buku murah yang diluncurkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ternyata belum tersosialisasi dengan baik di sekolah-sekolah. Akibatnya, banyak sekolah masih menjadi “pedagang buku” dengan “konsumen” para orangtua siswa mereka.

Menurut informasi yang dihimpun Suara Karya, masih banyak sekolah negeri yang memungut uang buku paket plus lembaran kerja siswa (LKS) dengan harga kisaran Rp 200.000-Rp 365.000.
Seperti di SD Negeri 1 Ciputat, sekolah tersebut menetapkan biaya buku paket dengan tambahan LKS sebesar Rp 200 ribu per siswa. Buku paket tersebut harus dibeli di koperasi sekolah mengingat tidak tersedia di toko buku.
“Susahnya, buku paket yang dipakai tidak tersedia di toko buku sehingga kami tidak punya pilihan lain,” kata Ny Diah Handayani, orangtua siswa kelas VI SDN 1 Ciputat yang mengaku pasrah dengan kebijakan sekolah tersebut.
Hal senada dikemukakan Ny Dewi Purnamasari, orangtua dari seorang siswa di SMP negeri 12 Bekasi. Anaknya dibebani uang buku paket dan LKS sebesar Rp 365 ribu, yang harus dibayarkan pada awal pelajaran.
“Buku itu harus dibeli di sekolah. Padahal, ada kebijakan pemerintah yang melarang sekolah berjualan buku,” kata Ny Dewi dengan nada berang.
Disinggung soal kebijakan buku murah yang bisa diakses lewat internet, kedua ibu rumah tangga itu mengaku tidak tahu soal kebijakan itu. “Saya belum pernah mengakses website yang ditawarkan Depdiknas itu. Seharusnya sekolah mengakseskan buku murah sehingga kita bisa merasakan dampak kebijakan buku murah yang ditawarkan Depdiknas,” kata Ny Dewi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Depdiknas telah membeli 49 judul dari 295 judul buku pelajaran yang bisa diakses masyarakat melalui internet. Harga buku yang sudah dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas itu berkisar Rp 4.000-Rp 20.000.
Tujuan Depdiknas membeli hak cipta buku teks pelajaran supaya harganya lebih murah dan mudah diperoleh. Melalui program buku murah, Indonesia akan menuju sekolah dengan sumber pembelajaran yang sangat bervariasi dan tidak terbatas. Diharapkan, siswa bisa lebih pandai dari gurunya karena banyaknya sumber pelajaran tersebut.
Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto yang ditemui terpisah, mengakui masih banyak sekolah yang melanggar Permendiknas No 11/2005 tentang Buku Teks Pelajaran. Depdiknas sudah mengeluarkan acuannya agar sekolah tidak menjadi pedagang buku, tetapi masih banyak sekolah yang melanggar.
Dalam peraturan itu, sekolah tidak diperkenankan memaksa atau menjual buku kepada siswa. Namun, aturan itu “disiasati” oleh sekolah dengan cara mengarahkan sekolah atau siswa membeli buku dari penerbit yang sudah memiliki perjanjian kerja sama dengan sekolah.
“Depdiknas pusat tidak memiliki kewenangan untuk menegur atau menindak sekolah yang melakukan praktik nakal tersebut. Sejak era otonomi daerah, wewenang mengawasi sekolah berada sepenuhnya di tangan kepala dinas pendidikan setempat dan bupati atau wali kota,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Subdinas Standardisasi dan Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta Kamaluddin menegaskan, sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri tidak diperkenankan menjual buku pelajaran kepada para siswanya. Karena, semua buku pelajaran untuk SD dan SMP sudah disediakan oleh pemerintah melalui dana biaya operasional sekolah (BOS).
“Karena buku-buku sudah disediakan pemerintah, sekolah meminjamkan kepada para siswanya secara gratis, tanpa ada biaya apa pun, termasuk untuk perawatan,” ucap Kamaluddin. (Ant/Tri Wahyuni)
Dikutip dari :www.suarakarya-online.com

1 Komentar

  1. makasih infonya. salam kenal dari http://budiharso.wordpress.com


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s